Monday, November 14, 2011

How to get an idea and write it down !


“Darimana sih, caranya kamu dapat ide?”

Nah, itu adalah pertanyaan yang juga nyaris-nyaris sama, yang dilontarkan pada saya, baik oleh teman, kenalan, keluarga jauh, juga message dan email masuk dalam kotak inbox saya.
Darimana ide itu datang?

Jujur ya, kalau ditanya-tanya seperti ini, saya agak grogi juga jawabnya. Karena terus terang, saya juga nggak ngerti bagaimana cara paling efektif untuk ‘menangkap’ ide mentah, yang lantas bisa kita tuangkan menjadi basic awal cerita kita.
Untuk saya, berkat Tuhan, ide itu bisa datang lewat mana aja. Melintas di kepala saya. Jika ide itu begitu hebat dan kuat, maka ide itu akan menghantui terus sehingga tidak bisa tidak, saya memang harus menuliskannya. Baru deh sang ide puas, dan mungkin pindah sasaran untuk ‘direcoki’. :p

Tapi saya juga mengerti, nggak semua orang bisa mendapat pegangan kalau hanya mendapat jawaban ‘ide itu datang sendiri’. Jadi saya akan coba jelaskan bagaimana ‘menangkap dan menuliskan ide tersebut’, tapi lagi-lagi, sebatas pengetahuan saya ya

Mungkin jawaban paling benar ialah, lihat kehidupanmu sehari-hari.
Hidup adalah tabungan ide yang begitu banyak yang bisa kita ‘kilik’ jadi naskah. Hidup begitu kaya dan penuh warna
Kamu bisa amati kehidupanmu sendiri, kehidupan teman-teman di sekitarmu, orang-orang yang bahkan hanya ‘numpang lewat’, singgah selama hanya 30 menit seperti pelayan yang ramah yang bisa kamu ajak ngobrol, ketika kamu ngopi di sebuah kedai kopi, misalnya.
Amati dan ambil satu tema yang paling menarik untukmu
Bisa di-mix dan match mungkin antara thriller dan romance kan, seperti The Calling, novel keempat saya
Bisa dimasukkan sedikit unsur kemanusiaan, seperti Zoom (novel kedua saya), yang mengusung anak jalanan sebagai salah satu latar belakang kisahnya.

Jadi, dunia ini begitu kaya oleh ide, kan ϑ
Lihat masalah apa yang kamu hadapi.
Lihat, apa yang orang-orang di sekitarmu rasakan.
Jadilah pendengar yang baik kalau ada teman curhat.

Waktu saya kuliah, kami berdelapan (teman-teman genk saya), lagi heboh-hebohnya disibukkan
dengan pendaftaran untuk menjadi stewardess di Singapore Airlines.

Salah satu teman saya, diterima
Semua langkah wawancara saya rekam dalam ingatan saya. Saya membayangkan kebahagiaannya. Dan, jadilah, novel Lukisan Keempat
Tentu kisah hidup Natasya, sekali lagi adalah fiksi. Namun backgroundnya saya ambil dan amati dari kehidupan nyata kehidupan kampus

Saya melihat anak jalanan, hati saya terketuk
Saya bisa melihat kesusahan dan kegigihan mereka dalam mencari sesuap nasi
Sementara saya sendiri, makanan kadang dibuang-buang
Dari melihat mereka, lahirlah tokoh Agil, di novel Zoom
Kisah selebihnya, adalah murni buah khayalan

Jadi, paling mudah untuk menangkap ide adalah dengan menjadi pengamat.
Kamu melihat keadaan sekitarmu, tuliskan
Tentu saja nggak semua kamu tulis plek ya, kalau itu namanya sudah bukan fiksi lagi, tapi lebih ke biografi, non fiksi

Kamu hanya mengambil petilan kisahnya, kamu amati reaksi mereka, kamu tangkap sebagian konfliknya, padukan dengan imajinasimu sendiri, voila, kamu sudah mendapatkan bahan mentah untuk bisa kamu olah menjadi cerita yang apik

Contoh lainnya, saya yang mumet membuat anggaran belanja supaya budget rumah nggak merah melulu :)
Pusingnya dealing dengan cicilan KPR rumah milik kami.
Ribetnya mengatur keuangan, balancing life between what is need or just want it.
Musti pandai-pandai menahan semua keinginan itu karena ingat, harus nabung untuk sesuatu yang lebih baik lagi.
Semua kemumetan itu saya tuangkan di naskah yang sedang saya garap sekarang, Lana’s draft.
Sekali lagi, major conflictnya beda.
Masalah besar yang tokoh saya hadapi itu hanya khayalan imajinasi saya.
Tapi petilan-petilan kisahnya ada yang saya ambil dari kehidupan sehari-hari diri saya sendiri, dari pengamatan terhadap kehidupan orang lain, sehingga semoga cerita akan terasa lebih wajar dan membumi

And that is how I get an idea and write them down in my manuscript

Please, just try yours!

Happy writing, ya

2 comments:

Pucca said...

sebenernya gua kadang kalo lagi melamun bisa ada sekelabat ide2 gitu loh.. tapi karna gua gak bakat nulis dan sibuk (males) ya ilang gitu aja idenya hehe :)

Rina Suryakusuma said...

@Viol : Heheee coba aja Vi