Friday, November 11, 2011

How to get our story published


Banyak email atau message di FB yang menanyakan hal yang nyaris sama ke saya, "kak, gimana sih caranya supaya cerita kita bisa terbit?"
Jadi hari ini, saya pingin sedikit berbagi (sebatas yang saya tahu tentunya), tentang how to get the story published!

Pertama-tama, tentu saja, untuk menerbitkan naskah, kita kudu mempunyai naskah terlebih dahulu.
Jadi langkah pertama, do make your story!
Dan membuat cerita itu nggak bisa sekali jadi, seperti bikin telur ceplok, no. Bikin cerita itu butuh sesuatu yang lebih dari sekedar skill aja, tapi konsisten dan semangat untuk tetap menulis sehingga cerita kita itu rampung, bahkan di saat kita sedang menghadapi 'tembok masalah' dalam menulis
Untuk mengatasi masalah 'tembok' ini, nanti ya, semoga saya juga bisa sharing tentang apa yang saya lakuin ketika rasa malas dan rasa pesimis itu datang menghantui, sehingga rasanya akan lebih mudah untuk stop aja deh, ketimbang 'buang waktu' lagi dengan terus menulis.
Dan berita baiknya nih, semua orang pasti pernah kebentur dengan tembok itu. Cara kita menghadapinya, apakah akan stop nulis, atau tetap berusaha untuk menyelesaikan cerita, itu yang membuat akhir kisah yang berbeda :)
Saya sendiri menulis naskah butuh waktu sekitar 2 smpai 3 bulan, kalau lancar
kalau stuck, terpaksa cerita itu saya pending lebih dahulu.
Tapi pending berarti tetap harus dikerjakan
Karena apalah arti cerita yang pending kan, tetap aja nggak bisa dikirim dan dipublish
Jadi kekonsistenanmu dalam menulis, itu sangat penting

Dan aturan penulisan naskah itu biasa untuk setiap penerbit adalah standar
Times new roman, font 12, spasi 1.5
Rata-rata mereka meminta sekitar 120- 200 halaman untuk novel yang akan diterbitkan


Dan kedua, setelah kita punya 'modal' untuk dikirim, yaitu naskah kita tersebut udah jadi, lantas, gimana dong?
Nah, ini saatnya kita searching penerbit yang pas, untuk naskah kita tersebut
Coba deh, googling bermacam-macam penerbit di internet, kalian akan ketemu banyak sekali penerbit yang mencari naskah yang baik untuk diterbitkan
Tapi, seperti mungkin kebanyakan penulis juga udah tahu, untuk memilih penerbit ini ada trik tersendiri
Intinya sih, pilihlah penerbit yang sesuai dengan genre yang kita tulis
Misalnya, untuk naskah remaja, untun naskah rohani, untuk biografi, untuk thriller, untuk komedi, kita bisa cari penerbit mana yang kira-kira cocok untuk menerbitkan naskah kita itu
Untuk lebih pastinya, harus banyak baca, jadi tahu kriteria apa yang lebih disukai penerbit A, misalnya
Just searching, and you'll find out :))

Ketiga, setelah kita sreg dengan penerbit A, misalnya, kita kirim naskah tersebut.
Nah, untuk mengirim naskah ini pun, harus kita lakukan dengan maksimal.
First impression talks a lot :)
Jadi, printlah naskahmu dengan tinta yang baik. Jangan yang tipissss sampai mata sakit ketika membaca.
Jilid naskahmu dengan rapi
Ini memang bkan aturan wajib. Tapi editor manapun akan lebih suka membaca naskah yang bersih. Artinya sebisa mungkin ejaan dan tata bahasa sudah baik (well, itu juga kekurangan saya sih :p), sudah diprint rapi, dijilid sehingga tidak bercecer, dan juga berikan halaman untuk setiap lembar naskah kita sehingga mudah untuk ditrace ketika sedang direvisi.

Buatlah biodatamu sekreatif mungkin
Memang ini nggak menjamin naskah akan diterima, tapi paling nggak, bisa kena lirik oleh para editor lho :)
Jadi, cobalah menyusun biodatamu seapik mungkin, jangan lupa email dan nomor telpon yang bisa mereka hubungi kalau mereka tertarik untuk menerbitkan cerita yang kalian kirim itu

Sertakan sinopsis juga, jangan lupa :)
Sinopsis ini berguna untuk mereka para editor yang akan menilai naskah kita untuk memiliki seluruh gambaran cerita, sebelum mereka sendiri membalik halaman pertama

Yang nggak kalah pentingnya, editor itu harus membaca banyaaaak sekali naskah yang perlu dinilai kelayakannya, sangat nggak mungkin untuk mereka membaca seluruh halaman naskah kita itu
Jadi, curilah perhatian para editor itu dengan 10 lembar pertama naskahmu
Artinya, dalam 10 lembar itu kita harus bisa menarik perhatian mereka dengan bab pembuka yang apik dan membuat penasaran, cara penulisan yang 'ngalir, juga tokoh yang menarik untuk disimak
Itu juga tantangan buat saya lho
Jujur, saya juga msih sulit untuk menulis bab awal dengan menarik ,karena rata-rata cerita baru akan menarik ketika sudah menginjak pertengahan kan
Tapi itulah tantangannya
Kalau perlu, setelah naskah selesai, saat diedit, khususkan perhatianmu pada bab-bab awal tersebut, revisilah jika memang harus
Jangan 'sayang' sama naskah sendiri
Prinsip saya nih, lebih baik naskah saya bantai, atau kalau kelolosan dari saya, sekalian aja dibantai editor, ditolak kalau memang jelek, daripada yang lebih parah lagi, terbit, tapi menuai caci maki dari para pembaca di luar sana

Dunia pembaca bisa jadi dunia yang 'kejam' lho untuk buku-buku yang belum matang di kandungan, artinya, belum ditulis secara maksimal dan banyak kesalahan yang lebih dari sekedar ejaan. Seperti salah timeline, nggak masuk akal, basi, klise, hal-hal yang memang jadi musuh dalam selimut untuk para penulis itu

Semangat ya!
Moga-moga karya kalian bisa terbit

Dan yng nggak kalah pentingnya, kalau ditolak, jangan putus asa :)
saya ditolak beberapa kali sebelum Ask Tinkerbell akhirnya diterima.
Setelah itu , masih sempat ditolak lagi setelah Jejak Kenangan diterima :)

Tapi ya itu, saya berusaha positif dan menganggap itu adalah suatu masukan. Karena memang lebih mending karya kita ditolak oleh penerbit, daripada beredar, dan malah dibantai di pasaran

Anggaplah penolakan sebagai cambuk bagi kita untuk menghasilkan karya yang lebih bagus dari sebelumnya
Percaya deh, semakin kita banyak menulis, semakin kualitas akan membaik
Jadi, anggaplah latihan pribadi, pelajaran yang bisa kita petik dengan kita tetap menulis, ada atau tidak adanya penolakan

Sukses adalah waktu Tuhan, namun usaha kita manusia, untuk mencapainya

Nanti next, semoga bisa ya, saya akan share about, how to get an idea and write it down for your manuscript :)

Good luck, everybody
Keep writing ya :)
Keep the spirit alive

4 comments:

Pucca said...

wow.. thanks banget tipsnya, gua sebenernya kepengen nulis, tapi gak ada keberanian dan gak pede, trus gak yakin bisa konsisten nulis sampe akhir :)

odeelix said...

Ciciiii... mengirimnya mudah. Buatnya yg susaaaahh! Masih loh ini gak jadi-jadi nulis dari jaman dulu. Payah bgt yak, aku sampai saat ini masih masuk ke kelompok "yak, gue stop aja udah pusing" :(

Rina Suryakusuma said...

@Viol : Hueheeheh dicoba Vi :)

Rina Suryakusuma said...

@Odiee : Hahaha same problem. semangat, Die :)